Minggu, 20 September 2015

JT 200915 : Indonesia Sukses Ekspor Asap

Di sisi politis, langkah Indonesia mengirim kabut asap secara gratisan ke negara tetangga dikritisi dan diklaim oleh Singapura dan Malaysia sangat mengganggu. Bukan saja mengganggu hubungan diplomatik antar negara tetapi lebih khusus lagi terhadap kondisi kesehatan warga negaranya.

So ? Inikah tanda-tanda bila Indonesia belum siap berkompetisi dengan negara tetangga, kemudian dikepulkan asap dari Sumatera dan Kalimantan ? Ato malah akal-akalan pengusaha Malaysia yang kabarnya tengah membuka lahan sawit baru di kedua pulau besar di Tanah Air ?

Dari jaman Orde Baru sampe sekarang setelah reformasi berjalan 10 tahun lebih, penanganan atas insiden kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap, gak pernah tuntas blaaas. Yang jadi korban langsung, ya masyarakat Riau dan sekitar sedangkan dampak asapnya sampai ke-2 (dua) negara tadi.

Kini bakal bertambah lagi, korban berikutnya yaitu Thailand. Di bidang bisnis, 3 (tiga) negara ini memang musuh bebuyutan republik ini, apakah kiriman ini disengaja ato tidak, yang pasti bakal mengganggu pertumbuhan ekonomi - bila berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Potensi kerusakannya, akhirnya semua pihak dirugikan. Indonesia kehilangan hutan produktif dan masyarakatnya bakal jadi pesakitan. Minimal terkena ISPA sedangkan bagi negara tetangga, isu bilateral bahkan multi-lateral menangani isu kabut asap ini bisa mengundang intervensi asing.

Setidaknya RRCina yang selama ini menjadi pemain pasif, bisa menawarkan bantuan. Kita tahu dunk, dibalik bantuan biasanya ada maunya. Begitu juga dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Jadi harus bagaimana dunk ?

Urus kepentingan Indonesia dengan bijaksana aja, karena manusia Indonesia tidak seceroboh yang diduga (bila tidak dikompori dan dibiayai oleh asing) dan seharusnya persoalan lokal di dalam negeri, bisa diatasi dengan baik. Indonesia memiliki jiwa gotong royong dan negeri lain blon tentu punya.

Kabar terakhir, asap dari Sumatera telah menghinggapi kawasan wisata Phuket, Thailand. Otoritas Phuket mengingatkan warga yang berusia lanjut, anak-anak dan orang dengan masalah pernafasan, supaya tetap tinggal di dalam ruangan.

Departemen Pengawasan Polusi mengeluarkan peringatan itu hari Sabtu 19/09 pukul 06.00 menyusul hasil pengukuran kualitas udara pada Pollution Standards Index  (PSI) bergerak ke angka 125, lima poin di atas level yang dianggap 'aman'.

Tuh khan ? Indonesia jahil ? Gak juga 'lah. Lantas siapa dunk yang bisa disalahin ? Biarlah itu tugas pihak berwenang yang menelisik, cuma rasanya aneh aja. Saat ada kasus-kasus gede (inget kasus anggota Dewan yang plesiran ke Amrik dan ketemu Donald Trump) ehh muncul kasus baru, dan kasus yang lama tertutup kemudian lenyap.

Sudah menjadi kebiasaan di negeri ini, jadi rasanya harus ada yang dirubah. Itu baru satu contoh dan masih banyak isu gede tak tersentuh ato mangkrak seperti Kasus Semanggi, Kasus Bank Century, Kasus Lumpur Lapindo dlsb. Pokoknya banyak dan masyarakat sampe muak rasanya. Jawabannya: tunggu, masih dalam pengusutan.

Lha sampe kapan tha ? Apa mau ekspor asap dipolitisir lebih jero ? Terserah wes. Sing waras ngalah. Gitu. Yang pasti, kita ikut bersimpati dan prihatin dengan munculnya siklus kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Jangan juga musim kemarau jadi kambing hitam, bisa kualat.

Sejauh ini, Polri telah menetapkan 140 tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan, 7 di antaranya dari korporasi. Menteri KLH Siti Nurbaya menolak bantuan dari Singapura karena masih mampu untuk mengatasi masalah. Yakin ?

Indonesia (kabarnya) bisa tangani kebakaran hutan dengan baik. Ayo buktikan ! Jangan cuma OMDO lho.

Sumber : Dari Sana-sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar