Kamis, 26 Desember 2019

JT 261219 : MSC Hindari Perancis - Untuk Sementara Waktu


Untuk sementara waktu, kapal2 milik pelayaran Mediterranean Shipping Co. (MSC) diminta untuk menghindari wilayah Perancis akibat mogok nasional berkepanjangan. Dan hebatnya lagi hampir melibatkan semua moda !

Kantor berita Reuters menyampaikan bahwa MSC sampe2 membuat contingency plan untuk sikon darurat ini. Dua minggu ke belakang, jalur kereta api + angkutan darat nyaris lumpuh.

Mogok nasional ini dikabarkan terkait isu reformasi pensiun, menyebabkan sekolah2 diliburkan dan setengah juta penduduk turun ke jalan. Juru bicara MSC tetap akan memonitor perkembangan yang ada.

Bagi Pembaca sekalian yang mempunyai prospek angkutan ke Perancis dan menggunakan MSC, bisa jadi akan dialihkan melalui pelabuhan tetangga terdekat. Detilnya, silahkan kontak perwakilan MSC terdekat.

Sumber : Dari Sana-sini.

Rabu, 25 Desember 2019

JT 251219 : Amazon Pengirim Paket Terbesar


Baca judulnya pasti serem dan bikin ngeper pemain2 kelas wahid. Jangan ngomong skala kecil karena mereka punya dunianya sendiri tetapi untuk pemain global, jika berhadapan satu sama lain, kentara bingitz.

Ini kisah di sektor kiriman parsel ato ritel ato barang2 kecil. Barang wujudnya boleh kecil tapi cuwannya lumayan kalo dikumpulin. Adalah Amazon.com yang kini semakin menggurita dengan bisnisnya.

Menurut rilis terkini, Amazon menjadi the biggest carrier disaat menjelang Natal – sebagaimana dikutip media Air cargo World yang bermarkas di New York, Amrik. Hampir separo kiriman di Amrik, ditangani Amazon.

Bozz logistik Amazon, Dave Clark, menyampaikan bahwa pihaknya bisa mengirim hingga 3,5 milyar paket selama tahun 2019, melebihi prakiraan analis Morgan Stanley yang mematok angka 2,5 milyar paket doank. Aje gile.

Awalnya, Amazon menggunakan jasa UPS + Fedex juga tetapi seiring perkembangan bisnis akhirnya Amazon langsung mengambil-alih biz ini langsung hingga lokasi Pelanggan.
Bagaimana perjalanan detilnya perkembangan Amazon, silahkan cek Mbah Google ya.

Sumber : Dari Sana-sini / Foto : Vox.

Senin, 23 Desember 2019

JT 231219 : CMA CGM Dukung Filem James Bond 007


Nasib kontainer dan kapalnya, jika ikut masuk dalam filem layar lebar, ujung2nya terkait penyelundupan narkoba ato human trafficking. Semoga kali ini ngga ya karena yang main James Bond selaku agen rahasia bersandi 007.

Kabarnya, perusahaan pelayaran Perancis, CMA CGM bakal menyiapkan 2 (dua) unit kapalnya untuk bekerja bareng dalam serial filem James Bond terbaru, dengan judul “No Time To Die”.

Kapal yang dimaksud yakni CMA CGM Fort Saint Georges (kapasitas 2.260 TEUs) dan CMA CGM Fort de France (3.504 TEUs) dan dilihat dari namanya, kapal beroperasi di wilayah Kingston, Jamaika.

Majalah maritim Afloat, mengabarkan bahwa sejumlah kru CMA CGM, termasuk kapten kapal bakal mengisi bagian dalam filem anyar James Bond tersebut dan 1.000 kontainer CMA CGM bakal diambil gambarnya.

Aktor pemeran utama agen rahasia 007, masih tetap Daniel Craig, bukan kru CMA CGM, dibawah pengawasan sutradara Cary Joyi Fukunaga – pemenang Emmy Awards untuk filem True Detective.

No Time To Die bakal dirilis dan diedarkan secara global mulai tgl 02/04/2020 di Inggeris Raya melalui rumah produksi Universal Pictures International, sementara untuk kawasan Amrik filem ini akan diputar di Metro Goldwyn Mayer Studio tgl 10/04/2020. Jozz.

Kayaknya, bakal ada program nonton bareng (no-bar) dengan kru CMA CGM Indonesia nih. Kita tunggu yuks kabar bagusnya he he he .... Eng ing eng. Klo gak ada acara no-bar, judulnya ganti jadi No Time To Deal hi hi hi.

Sumber : Dari Sana-sini / Foto : Bond Lifestyle.  

Minggu, 22 Desember 2019

JT 221219 : Kolaborasi Matson + Swire Shipping


Hari gini masih gontok2an, yang pasti bakal rugi. Makanya, menyadari hal itu para pimpinan pucuk dimana pun juga, mengebalikan prinsip bekerjasama untuk dikedepankan. Klo modal tanggung + strategi gak mumpuni, cukup tahu dirilah.

Bukan berarti perkara menang ato kala. Kolaborasi adalah prinsip bertahan di era digitalisasi, apakah industri pelayaran akan semakin mengerucut ato bertahan seperti sekarang karena sudah diregulasi secara alamiah ?

Alkisah, ada 2 (dua) perusahaan pelayaran spesialis banget di kawasan Pasifik, mereka adalah Matson Navigation + Swire Shipping. Para pemain laut hapal banget siapa mereka dan nyatanya kini keduanya bergandengan tangan tuh.

Terhitung mulai Januari 2020, kedua pelayaran sepakat menjalankan vessel sharing agreement (VSA) dan Swire bakal nyiapin satu kapal (namanya menyusul) sedangkan pihak Matson menyediakan 2 kapal : Olomana + Imua II.

Kedua kapal Matson berbobot 8.000 dwt. Rotasi pelabuhannya nanti, berangkat dari Auckland, Selandia Baru, lanjut ke Tonga, Samoa (Apia), Cook Island dan Fiji. Frekuensi setiap 10 hari sekali – demikian laporan media FreightWaves dari New York.

Sebelumnya, pelayaran Matson pernah masuk Pasifik Selatan sekitar tahun 1920-an tapi cabut entah kenapa, kemudian masuk lagi di tahun 2012/2013 lalu – setelah membeli pelayaran Reef Shipping Auckland. Gitu.

Oleh keduanya diakui bahwa kompetisi ke area Pasifik memang cukup ketat dan untuk itu keduanya bersepakat untuk saling bekerjasama agar tidak merugikan satu sama lain. Siiiip pilihan bagus tuh.

Sumber : Dari Sana-sini.

Sabtu, 21 Desember 2019

JT 211219 : Cosco Siapkan Dana USD 1,8M


Ngomong2 buat apa dana sebesar USD 1,8 milyar ? Ternyata untuk beli kapal baru. Woooow ! Perusahaan pelayaran RRCina, Cosco Shipping mengabarkan bahwa pihaknya bakal ngebeli 16 kapal kontainer anyar untuk keperluan ekspansi.

Jenis kapal yang mo dibeli ? Sabar. Menurut media asal Singapura Splash 24/7, manajemen Cosco sedang menghitung kebutuhan yang diperlukan untuk ekspansi agar permintaan pasar bisa diserap secara akurat.

Splash menyampaikan bahwa pihak Cosco tengah bernegosiasi dengan galangan kapal di RRCina untuk membangun 8 x 15.000 TEUs + 8 x 23.000 TEUs, total biayanya sekitar USD 1,8 milyar.

Pihak Cosco kabarnya gak kasih komen saat dikonfirmasi perihal isu ini. Bagi Andy Lane (analis pelayaran CTI Consultancy Singapura) berkomentar, rasanya waktunya gak tepat investasi Cosco tapi pasti ada sesuatu yang menyebabkan Cosco nekad pesan kapal sebanyak itu.

Lloyd.s List sendiri mengatakan aneh dan gak realistis jika pihak Cosco beneran jadi ngorder kapal sebanyak diatas, padahal belom lama ini ngejual aset Long Beach Container Terminal di Amrik.

Jadi mana yang bener nih ? Just wait and see.

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 17 Desember 2019

JT 171219 : Hutchison Port Incar Rotterdam


Niatan juragan terminal berskala global, Hutchison Ports (Hong Kong) untuk mengambil-alih aset yang dimiliki APM Terminals semakin terang. Kedua belah pihak kabarnya sudah menandatangani kesepakatan.

Terminal yang diincar adalah APM Terminals Rotterdam, Belanda. Kabarnya terminal ini memiliki thruput 2,5 juta TEUs per tahun dan jika disetujui para pemangku kepentingan, bisa ok, Tetapi bila gagal, ya mulai lagi dari nol.

Otoritas dimaksud yakni dewan pekerja, badan anti-monopoli Belanda dan sejumlah ketentuan yang berlaku. Jika disetujui pun, piahk APM Terminals menjamin selama 5 tahun sokongan volume dari Maersk untuk terminal yang dibelinya ini.

Terminal seluas 100 ha yang dioperasikan oleh APMT Rotterdam ini semula adalah terminal yang dioperasikan oleh ECT tahun 1980an yakni di Maasvlakte I Delta Peninsula. Kemudian terminal ini dijual atas persetujuan Komisi Eropa ke APMT.

Alasannya, pada saat itu ECT mendapat restu membangun terminal Euromax, yang dikerjasamakan dengan perusahaan pelayaran blasteran Inggeris - Belanda P&O Nedlloyd (PONL). Belakangan PONL pun diakuisisi oleh Maersk.

Sumber : Dari Sana-sini.

Jumat, 13 Desember 2019

JT 131219 : Bangkok Bank Kuasai Bank Permata


Seperti di industri pelayaran beberapa tahun ke belakang, di akhir tahun selalu menampilkan kejutan. Kali ini rupanya industri perbankan nasional yang digoyang isu akuisisi oleh bank asing.

Lagi satu bank nasional harus rela diambilalih oleh Bangkok Bank, Thailand, bank tersebut yakni Bank Permata (kode : BNLI). Pemegang sahamnya yakni PT Astra Internasional Tbk (ASII) dan Standard Chartered bank (Stanchart) akhirnya meneken perjanjian pembelian saham bersyarat Kamis 12/12.

Bangkok Bank memborong 89,12% saham Bank Permata dari Astra dan Stanchart. Astra dan Stanchart sama-sama memiliki 44,56% saham Bank Permata. Nilai akuisisi ini sekitar US$ 2,6 miliar atau setara dengan kurang lebih Rp 37,43 triliun.

Sumber : Kontan.

Selasa, 10 Desember 2019

JT 101219 : MSC DI Ranking Ke-2 Dunia

Sejarah bakal mencatat kisah monumental ini. Limapuluh tahun lalu, seorang kapten kapal menyisihkan uang untuk membeli sebuah kapal (bekas) dan dioperasikan di rute Italia ke Somalia. Itulah cikal bakal MSC lahir.

Sekarang ini, Mediterranean Shipping Co. (MSC), merupakan perusahaan pelayaran blasteran Swiss-Italia, yang beroperasi di hampir semua pelabuhan besar dunia dan menjadi operator kapal kontainer nomor 2 terbesar di dunia, setelah Maersk.

MSC didirikan tahun 1970 oleh Gianluigi Aponte dan hingga saat ini pelayaran ini merupakan perusahaan swasta yang mengoperasikan 493 kantor di 155 negara di seluruh dunia, dengan total karyawan 70.000 lebih.

Kapal MSC melayari lebih 200 rute perdagangan, bahkan sekarang ini MSC dikenal karenan memiliki 2 (dua) kapal terbesar didunia yakni MSC Gulsun (kapasitas 23.756 TEUs) + MSC Samar (23.700 TEUs).

Gianluigi Aponte membeli kapal pertamanya, Patricia di tahun 1970, disusul kemudian dengan kapal ke-2, Rafaela dan mulai konsisten menghubungkan area Mediterania dengan Somalia.

Tahun 1977, perusahaan mulai ekspansi ke Eropa, Afrika + India. Tahun 1980-an merangsek hingga Amrik + Australia. Baru di tahun 1994, MSC sanggup mengorder kapal anyar, MSC Alexa dan dioperasikan tahun 1996.

Oktober 2014, Diego Aponte pewaris tahta kerajaan MSC dinobatkan sebagai CEO + Presiden MSC sementara bokapnya menjadi group executive chairman. Februari 2017, membeli saham Messina Line, spesialis intra-Med + Afrika utara.

Perusahaan ini memiliki 8 (delapan) unit kapal RO/RO dan juga memiliki terminal di Genoa, Italia. Kontainer Messina ditaksir ada 65.000 TEUs. Lantas, Januari 2018 MSC mengoperasikan 2 (dua) unit kapal car-carriers antara Eropa ke Afrika barat.

Ditaksir dalam 1-2 tahun kedepan, MSC bakal menyalip posisi Maersk karena order kapal pelayaran blasteran ini terus bertambah sementara pihak Maersk memilih mengoptimalkan aset alias menjaga kinerja.

Kita lihat gebrakan MSC selanjutnya, apakah tetap konsisten memacu kinerja seperti sekarang ato bakal lebih garang dengan ambisi barunya ? Just wait and see ...

Sumber : Dari Sana-sini.

Senin, 09 Desember 2019

JT 091219 : H-L Beli Saham Terminal Tangiers


Untuk memperluat basis bisnisnya di kawasan Mediterania, perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd AG (H-L) kabarnya membeli 10 persen saham Container Terminal 3 (TC3) di Tangiers Med 2.

H-L merasa pelabuahn yang terletak disebelah selatan Selat Gibraltar tersebut memiliki lokasi yang strategis sehingga dirasa perlu untuk menancapkan kekuatan di Tangier – demikian catatan Hellenic Shipping News Worldwide.

Setidaknya H-L memiliki akses ke area Afrika sebelah utara dan mendekati pasar Mediterania, apalagi sebagai global carrier sekelasnya. H-L merupakan pimpinan di THE Alliance dan memiliki pengaruh cukup kuat.

TC3 akan memiliki kapasitas 1,5 juta TEUs bila kelak beroperasi di mid-2020. Pemilik saham lain di Tangier ini yakni Marsa Maroc (50 persen, Contship Italia + Eurogate (memiliki saham bersama 40 persen).

Congrats !

Sumber : Dari Sana-sini.

Minggu, 08 Desember 2019

JT 081219 : Industri Penerbangan Dirundung Kelam, HKA + SAA


Belum beres isu yang berkembang di Tanah Air seputar masuknya sepeda motor klasik Harley Davidson via pesawat baru maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, kini ada kabar yang kurang bagis dibelahan dunia lain.

Udk. Konon kabarnya, saham maskapai penerbangan merah putih sempat turun dalam beberapa hari terakhir tapi biarlah udah ada yang nanganin, kita gak perlu sotoy ngurusin yang bukan ahlinya. Apalagi bukan domainnya.

Ini info sekilas yang kita dapat dari dunia maya dan boleh di cross check lagi seandainya ragu. Pertama, maskapai penerbangan Hong Kong Airlines (HKA) diultimatum oleh otoritas setempat, bahwasanya maskapai tersebut harus segera diinjeksi bila gak mo dibilang kolaps.

Hong Kong Air Transport Licencing Authority (ATLA) melanjutkan, jika HKA gak bisa memenuhi kewajibannya maka ATLA akan mengambil tindakan tegas selanjutnya, semisal mencabut lisensi operasi HKA.

Induk yang bertanggung jawab HNA Group, kabarnya udah ngajuin pinjaman bank senilai USD 568 juta untuk membayar gaji karyawan, menyewa pesawat, membeli avtur + biaya2 lain namun hungga saat ini belum maujud.

Sementara itu, maskapai penerbangan yang membawa bendera Afrika Selatan kabarnya akan segera oleh pemerintah sehingga South African Airways (SAA) bisa tetap beroperasi – demikian catatan Bloomberg.

Yang sempat beredar adalah pemerintah siap mengucurkan dana ZAR 2 milyar (= USD 137 juta) untuk menopang sektor keuangan yang diperlukan. Sementara pihak asosiasi menolak adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Udk, SAA menawarkan lebih penerbangan ke 30 destinasi domestik + internasional sejak tahun 1934, saat pemerintah mengambil-alih aset Union Airways. Harus diakui sejak tahun 2012 SAA merugi hingga saat ini.

So, kita tunggu kabar selanjutnya aja ya.

Sumber : HKSG.

Senin, 02 Desember 2019

JT 021219 : Evergreen Order 4 x 23.000 TEUs


Walau sempat menahan diri untuk gak ikut nyemplung di kompetisi gede2an kapal, akhirnya pelayaran Taiwan ini berhasrat untuk mewujudkan cita2 kepengen menjadi salah satu global operator yang punya kapal gede (ka-ge).

Evergreen kabarnya order 4 (empat) unit kapal berkapasitas 23.000 TEUs dari daratan RRCina, yakni 2 unit pesan dari SSC Hudong-Zhonghua Shipbuilding dan 2 unit lainnya dari CSSC Jiangnan Shipyard. Biar adil masing2 dapat 2 unit he 3x.

Ke-4 kapal diatas akan menjadi armada terbesar di Evergreen Marine Corp. (EMC) dan didisain khusus oleh Hudong-Zhonghua agar bisa ramah lingkungan, efisien + hemat energi.

Ada info tambahan, Evergreen merencanakan membangun 6 (enam) unit kapal setipe dengan kapasitas 23.000 TEUs tetapi alokasinya ditetapkan Samsung Heavy Industries (SHI), Korea Selatan. Toooop !

Sumber : Dari Sana-sini.

Minggu, 01 Desember 2019

JT 011219 : Cosco Merangsek ke Posisi 3 Dunia

Data statistik bisa aja berubah-ubah karena komposisi detil kepemilikan kapal pun dari satu penyedia informasi data kadang berbeda. Jadi jika ada klaim siapa yang terbesar dan siapa menggeser siapa, semoga datanya cukup bisa dipercaya.

Kali ini klo ngomongin siapa sih pelayaran yang terbesar di dunia sekarang ini, masih Maersk di posisi pertama dan Mediterranean Shipping Co. (MSC) di posisi kedua. Lantas yang ke-3 ? Selama kita mengenal ada CMA CGM Group.

Ternyata berdasarkan data terkini, posisi ke-3 sudah ditempati oleh Cosco Shipping (RRCina), sebelumnya ada di ranking ke-4. Kalkulasi ini berdasarkan hitungan bahwa Cosco melebur dengan China Shipping Container Lines (CSCL).

Ditambah lagi, beberapa waktu lalu saat Cosco mengakuisisi induk perusahaan OOCL yakni Orient Overseas (International) Ltd ato OOIL. OOCL sendiri masih eksis dan menggunakan bendera Orient Overseas Container Line.

Jaringan yang dikembangkan pun gak tanggung2. Terminal kontainer serta integrasi program OBOR (One Belt One Road) pemerintah RRCina di seluruh dunia, membuat gebrakan Cosco semakin masif dan terpadu. Yang digarap penuh yaitu Piraeus, Yunani.

Hingga akhir 2018, Cosco memiliki kapal kontainer 376 unit berbagai ukuran, total kapasitasnya 2,1 juta TEUs ato menempati ranking ke-4 dunia tapi nomor 1 di Asia. Cosco mengoperasikan 362 rute internasional + domestik.

Di akhir Maret 2019, total armadanya meningkat menjadi 478 kapal kontainer, dengan agregat kapasitas 2,7 juta TEUs. Dan Cosco masih punya order kapal gede dengan agregat 159.421 TEUs.

Cosco Shipping Holding menangani 30,6 juta TEUs selama kuartal 1 – 2019 (sekitar 6,67 juta TEUs merupakan kontrol penuh Cosco sedangkan 23,95 juta TEUs terminal yang dikerjasamakan bersama investor).

Itu aja gambaran bahwa Cosco sekarang meng-klaim sebagai penghuni ranking ke-3 opertaor global setelah Maersk + MSC. CMA CGM, Hapag-Lloyd ato siapapun, jika mo ngelawan yang diatas tadi, butuh kerja luar biasa tuh he he he.

Sumber : Dari Sana-sini.

Kamis, 28 November 2019

JT 281119 : Pegawai CNR Akhiri Mogok


Setelah sempat mogok cukup lama dan kargo di sebagian wilayah Kanada + Amrik terganggu, para pekerja Canadian National Railway (CNR) kembali melakukan aktifitas seperti biasa – demikian dilaporkan oleh Bloomberg.

Teamsters Canada Rail Conference menyampaikan, telah dicapai kesepakatan sementara dengan manajemen CNR sehingga ktifitas gak terganggu lagi. Sekitar 3.200 pekerja mogok sejak 19/11 terkait dengan kondisi pekerjaan + manfaat kesehatan.

Kesepakatan ini harus dituntaskan dalam waktu 8 (delapan) minggu kedepan ato 2 bulan doank dan via electronic voting rahasia. Pihak serikat pekerja (SP) berterima kasih kepada PM Kanada Justin Trudeau yang menghargai aksi mogok tsb.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Teamster Kanada Francois Laporte. Pemerintah pula yang menyodorkan bahwa sebaiknya dilakukan dialog sehingga berakhir dengan win-win solutions.

CN Rail berbasis di Montreal, membawa angkutan senilai CND 250 milyar (= USD 189 milyar) setiap tahunnya, termasuk 180.000 barrel minyak per hari. Waaaaw bingitz ini sih.

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 26 November 2019

JT 261119 : Kerry Logistics Ambil Saham ASAV


Ekspansi Kerry Logistics, lagi2 gak terbendung. Belum lama ini untuk penetrasi skaligus memperkuat pasar di wilayah Turki dan sekitarnya, perusahaan yang berbasis di Hong Kong ini mengakuisisi freight forwarders yang punya kekuatan di moda udara, yakni ASAV.

Walau gak dibilang membeli penuh saham ASAV, sebagai pemegang saham mayoritas tetap aja Kerry Logistics bisa berbuat apa yang diinginkan. Kurang lebihnya gitu lah.

Nama lengkap perusahaan yang saham mayoritas dibeli Kerry tadi yakni Asav Lojistik Hizmetleri Anonim Sirketi (ASAV), sebagai bagian dari ekspansi global Kerry diseantero dunia. Perusahaan ini menguasai biz udara lumayan bagus dan karena itu Kerry mengincarnya.

ASAV didirikan pada tahun 1994 dan menurut ranking yang dirilis International Air Transport Association (IATA), ASAV adalah Turkey's biggest air cargo agent by tonnage in 2017 and 2018. Wooooow banget dunk. ASAV juga memiliki 7 (tujuh) kantor di Turki, yakni 5 Istanbul, 1 Bursa + 1 Izmir.

Pokoknya Kerry mengakuisisi saham mayoritas ASAV gak nyesel kalo ngeliat kinerjanya. Lanjuuuut.

Sumber : Dari Sana-sini.

Minggu, 17 November 2019

JT 171119 : Raport HMM Q3 Masih Merah


Membuat keuntungan di industri pelayaran dalam beberapa tahun belakangan ini seperti menoreh tinta emas, jika betul2 bisa maujud. Gak semua bisa karena kompetisi sudah sangat luar biasa berbeda dibanding tahun2 sebelumnya.

Saat ini pelayaran sudah mengikat + terikat di aliansi strategis sehingga sulit untuk bisa keluar kecuali diakusisi oleh anggota aliansi itu sendiri. Bukan mustahil yang membeli diluar anggota aliansi tetapi pelayaran saat ini sudah mengerucut dan semakin sedikit kemungkinan membeli pelayaran ato merger skalipun.

Adalah Hyundai Merchant Marine (HMM) yang hingga awal tahun 2019 menjadi rebutan aliansi strategis dan yang paling butuh kebetulan THE Alliance. Saat ini HMM masih menempel di 2M dua nama besar di industri pelayaran, Maersk + MSC.

Di kuartal 3 (Q3 - 2019) HMM membukukan operating-loss KRW 46,6 Milyar (= USD 39,8 juta), boleh dibilang jauh membaik dibanding kinerja Q3 2018 yang merugi hingga KRW 123,1 Milyar (62 percent year-on-year improvement). Keren nih - jangan melulu dilihat minusnya.

Keberhasilan HMM disebut-sebut sebagai upaya2 pengurangan biaya, khususnya program tear-down (TDR) + redisain seluruh proses bisnis di penjualan, operasi hingga admin. Total revenue Q3 tumbuh 1,5 persen, hingga di angka KRW 1,44 Milyar walau tetap dihantui ketidakpastian di perdagangan global dan tingkat pelemahan harga.

Sayangnya gak ada catatan perolehan volume di setiap region tetapi pihak HMM stay-positive dengan beragam isu konflik dagang Amrik-RRCina, instabilitas di Timur Tengah/Hongkong serta Brexit. Q4 harus lebih baik apalagi menjelang persiapan Chinese New Year 2020.

Jangan lupa juga, tahun 2020 bagi HMM merupakan tahun kebangkitan. Setidaknya sejumlah kapal gede (ultra-large container vessels / ULCV) bakal mulai diserahkan dan bersiap bekerja bareng dengan THE Alliance, bukan lagi dengan 2M.

Mari kita plototin bersama, gebrakan apa nih yang mo disiapkan HMM maupun THE Alliance di tahun 2020 ...

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 05 November 2019

JT 051119 : Resmi, BCA Akusisi Bank Royal


Seperti sudah diduga banyak pengamat, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) akhirnya berhasil merampungkan proses akuisisi PT Bank Royal Indonesia. Hal ini ditandai dengan penandatanganan akta akuisisi kedua belah pihak.

BCA sendiri telah memulai proses akuisisi sejak 16 April 2019 lalu dengan menyusun perjanjian jual beli saham bersyarat dengan pemegang saham Bank Royal.

Sebelumnya Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja sempat menyatakan bahwa pascaakuisisi rampung Bank Royal bakal diarahkan menjadi bank digital. Targetnya Juni 2020, Bank Royal sudah dapat menggelar operasi digitalnya.

Sumber : Dari Sana-sini.

Senin, 04 November 2019

JT 041119 : Seaspan Fraser Sandar Di Singapura


Kapal kontainer yang sempat ditahan oleh pihak TNI AL ini, mempunyai panjang 264 meter + lebar 32 meter. Kapal ini diberi nama oleh sang pemiliknya yakni Seaspan Fraser (kapasitas 4.254 TEUs). Lumayan gede untuk ukuran feeder.

Kabar terbaru, Seaspan Fraser semalam berhasil sandar di pelabuhan Singapura setelah sempat terkatung-katung sebulan lebih di perairan Tanjung Uban, Kepulauan Riau. Untung aja gak nunggu sampe ubanan.

Kapal berbobot 50.382 dwt ini disewa pihak PT Cosco Shipping Lines Indonesia dan dioperasikan di rute Surabaya – Singapura. Tgl 29/10 saat kapal berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya gak ada indikasi aneh saat itu.

Dapat kabar setelah hampir sebulan terkatung-katung dengan membawa 1.700 TEUs diatas kapal dan cukup ngagetin dunk. Pasalnya, diantara muatan tadi ada muatan produk makanan + produk yang mudah rusak.

Pihak Cosco masih belon bisa jelasin sebab musababnya tapi kabar dari Marine Bulletin terbitan Kiev nyebutin bahwa jaminan pemilik kapal (owner of the vessel) yakni Seaspan International, Kanada akhirnya kapal bisa dirilis.

Berikut ini data kapal dimaksud, merujuk dari situs FleetMon.com yakni : AIS Name SEASPAN FRASER, Tipe kapal : Containership, Bendera : Hong Kong SAR RRCina, IMO : 9351608, MMSI : 477815200, Callsign : VRHB2 dan Tahun pembuatan : 2010.

Begitu kabar singkatnya. Monitor terus ya keberadaan serta kebenarannya. Rujukan sebelumnya, baca JT 3010119 : Kapal Seaspan Fraser Ditahan AL.

Sumber : Dari Sana-sini / Foto : FleetMon.

Kamis, 31 Oktober 2019

JT 311019 : Integrasi DSV Panalpina Di Amrik


Dengan adanya program penggabungan (integrasi) bisnis, karyawan Panalpina di Amrik saat ini tengah belajar sistem manajemen angkutan DSV Air & Sea. Biasanya begitu, tim yang diakuisisi harus segera beradaptasi dengan sistem pemilik baru.

Tujuan utama pelatihan diatas adalah untuk mentransfer data + volume Pelanggan Panalpina ke sistem DSV sehingga kedepannya semua kegiatan forwarders akan ditangani sistem yang sama yakni milik DSV – demikian catatan Air Cargo News.

Targetnya, untuk area kantor di Chicago, Detroit, Minneapolis + St. Louis bakal menggunakan sistem DSV, efektif per tgl 15/11/19. Namanya pun sudah resmi setelah proses akuisisi menjadi DSV Panalpina.

Kita doakan semoga proses integrasi yang diharapkan bisa mancarli ya.

Sumber : Dari Sana-sini / Foto : Transport Intelligence.

Rabu, 30 Oktober 2019

JT 3010119 : Kapal Seaspan Fraser Ditahan AL


Hingga akhir bulan Oktober 2019, hal yang sempat rame diperbincangkan adalah banyaknya kontainer yang tertahan gak bisa lanjut ekspor karena feeder-nya kapal Seaspan Fraser voy. 061N ditahan oleh pihak Angkatan Laut (AL).

Kapal ini dioperasikan oleh pihak COSCO (pelayaran RRCina) namun sumber perselisihan kenapa kapal ini di tahan pun masih simpang siur. Ada yang bilang kontrak yang gak jelas, ada juga alasan lain tapi gak diungkap secara jelas.

Intinya, atas permintaan vessel operator, untuk sementara jangan banyak memberikan tanggapan. Khawatir jadi salah kaprah. Tapi ALFI + GPEI dibuat geram karena memakan waktu satu bulan lebih dan gak ada juntrungannya.

Sementara itu Steven Lesawengan, Ketua DPC INSA Surabaya saat dikonfirmasi Ocean Week, Rabu pagi, menyatakan bahwa pada Selasa kemarin sore (29/10), pihaknya bertemu dengan pihak Cosco selaku agen dari kapal tersebut.

Saat ditanya hasilnya, tetap aja no comment. Pihak Ocean Week pun sempat kabarnya memanyakan kepada pihak TNI AL namun dijawab diplomatis dan bisa jadi, menyangkut kepentingan nasional. Uuups, klo ini mah berat – jika benar.

Jika dibiarkan berlarut2 bukannya hanya akan menimbulkan klaim yang besar akibat keterlambatan ato kerusakan barang tetapi juga kredibilitas Customer Indonesia di luar negeri. Hmm gitu ya.

Sebulan bukan waktu sebentar dan kita tunggu kejelasan selanjutnya dari pihak operator maupun owner’s of this vessel. Deg deg-an juga ...

Sumber : Ocean Week.  

Senin, 28 Oktober 2019

JT 281019 : Kapal SM Line Kandas


Kejadian ini lazim jika kapal komersil memasuki perairan sungai seperti di Indonesia, Afrika ato pun Eropa. Rupanya di Amrik hal tersebut bisa juga terjadi. Menurut kabar, ada kapal berbendera Liberia kandas saat meninggalkan pelabuhan Savannah.

Ooooops, kapal siapa gerangan ? Ternyata setelah ditelusuri, kapal tersebut operatornya SM Line (Korea Selatan) dan nama kapal dimaksud SM Vancouver kapasitas 5.618 TEUs. Sebabnya ?

Kabar terakhir menyebutkan karena kerusakan mesin. Kapal berhasil diangkat kembali (refloated) 4 jam kemudian – demikian menurut laporan yang disampaikan Maritime Bulletin yang bermarkas di Kiev.

Alhamdulillah, cepet juga ya.

Sumber : Dari Sana-sini / Foto : FleetMon.

Senin, 21 Oktober 2019

JT 211019 : Maersk Ditempel Ketat MSC


Sepertinya, posisi Maersk sebagai pelayaran terbesar di dunia terus didekati oleh rival sejati sesama mitra aliansi 2M yaitu Mediterranean Shipping Co. (MSC) yang disebut pelayaran blasteran Italia-Swiss.

Targetnya, dalam kurun waktu 2 (dua) tahun kedepan, MSC bisa melampaui Maersk sebagai The World Biggest Box Carrier. Emangnya punya persiapan apa buat menyalip Maersk yang terkenal doyan mengakuisisi pelayaran besar dunia.

Ternyata MSC punya tabungan gede, yakni order kapal kontainer gede (ka-ge) ato ULVC 5 x 23.000 TEUs dari galangan kapal Korea Selatan, Daewoo Shipyard & Marine Engineering (DSME).

Menurut rumah riset Alphaliner, nantinya MSC bakal punya 16 ka-ge ato setara 305.352 TEUs. Bagi Maersk sendiri sepertinya belum ada rencana akuisisi dalam waktu dekat sehingga bisa diprediksi jarak antara keduanya semakin dekat.

CEO Maersk, Soren Skou mengkonfirmasi bahwa Maersk akan konsisten di kapasitas 4,2 juta TEUs yang digelar diseluruh dunia dan kedepannya akan mendorong optimalisasi ketimbang berlomba menambah kapal.

Sebelumnya, Maersk dikenal dengan kontroversi membangun kapal terbesar semisal Emma Maersk 15.000 TEUs kemudian yang terakhir yakni Maersk McKinney Moller (tahun 2013). Bahkan ada juga ide membuat kapal 45.000 TEUs tapi hingga saat ini belum ada kabar lebih lanjut.

Kapal terbesar di dunia saat sudah dipegang oleh MSC yakni dengan beroperasinya MSC Gulsun, kapasitas 23.765 TEUs. Terus kenapa Maersk gak segarang dulu ? Ada masanya mas Bro, jadi simak aja perkembangannya ya.

Sumber : Dari Sana-sini.

Jumat, 18 Oktober 2019

JT 181019 : Kuartal 3 RRCina Terburuk Selama 27 Tahun Terakhir


Kalo udah ngomong ekonomi RRCina, kayaknya kita kudu waspada bener. Negeri Panda yang selama ini begitu kokoh bisa mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi rata2 2 digit pun harus berhadapan dengan dampak perang dagang.

Kejadian yang gak semua orang inginkan adalah adanya ketegangan antara pemerintah Amrik + RRCina dalam mempertahankan kepentingan nasional masing2 dan diprediksi bakal berlangsung cukup alot dan lama.

Itu urusan politik ‘lah. Tapi dampaknya ke sektor ekonomi sungguh dahsyat. Buktinya dalam 27 tahun terakhir, hasil kuartal 3 tahun 2019, tingkat pertumbuhan ekonomi RRCina di kisaran 6 persen doang.

Secara statistik masih aman karena masih dalam lingkup target pemerintah yang mentapkan antara 6-6,5 persen di keseluruhan tahun (whole year). Cuma kalo kepleset dikit khan gak enak, bisa dibawah 6 persen.

Itu juga yang diwaspadai oleh Chief Economist dari TS Lombard, Bo Zhuang. Angka diatas disampaikan oleh juru bicara National Bureau of Statistics, Mao Shengyong, kondisi sulit akan bakal dilamai hingga akhir tahun. Artinya ?

Untuk diketahun, pertumbuhan ekonomi RRCina di tahun 2018 yaitu 6,6 persen. Jangan sampe jeblok karena pastinya akan menyulitkan semua negara tetangga yang langsung terkoneksi dengan Negeri Panda ini.

Waspada, waspada dan waspada.

Sumber : Dari Sana-sini.