Sabtu, 12 September 2015

JT 120915 : Kendala Pelabuhan Sambut Kapal 20.000 TEUs

Setelah ditunggu dan ditunggu, pada akhirnya 2 (dua) pelayaran global ini menyampaikan keinginannya memesan kapal berkapasitas 20.000 TEUs. Seperti kita ketahui, beberapa waktu lalu, polemik order kapal gede ini menjadi momok dalam soal pendanaannya.

Bukannya berarti pelayaran tersebut kere alias gak ada duit. Permasalahan pemasaran menjadi dilemma pelayaran besar karena disaat pesanan jadi (katakanlah 20.000 TEUs), harus berapa lama duit pinjeman dibalikin ? 

Perkara bikin berapa banyak dan siapa galangan yang ditunjuk, itu rahasia perusahaan deh. Kita cuma mengulas, sisi lain dari bisnis pelayaran agar berjalan simultan dan lancar, maka harus dipastikan semua unsur meng-upgrade diri bersama-sama.

Berani ambil risiko, ya salah-salah kalkulasi bisa ambruk. Makanya pelayaran-pelayaran besar ekstra ketat berhitung supaya gak tergelincir. Persoalan membangun kapal besar gak melulu memikirkan pendanaan dan pasar, tetapi juga pola operasi dan kemungkinan kongesti.

Gak semua pelabuhan menjamin bahwa masuknya kapal-kapal gede, otomatis murni meningkatkan volume. Pihak pelabuhan harus memperdalam alur agar kapal segede mungkin bisa diakomodir. Kapal semakin hari, semakin gede. Itu problematikanya.

Blon lagi pembangunan infrastruktur bernilai ratusan juta dollar, perlu waktu bertahun-tahun serta pengguna jasa dalam rantai distribusi, pun harus menanggung biaya berupa surcharge ato apapun namanya untuk merespon biaya yang sudah dibelanjakan oleh pihak operator.

Intinya, kompleksitas pelayaran besar membangun kapal gede berkapasitas diatas 20.000 TEUS tak hanya menyisakan pekerjaan rumah bagi pelayaran itu sendiri tetapi juga berdampak kemana-mana, seperti port operator, customer dan sistem shift buruh di pelabuhan.

Sumber : SN-TR, Cairo Post.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar