Selasa, 01 Desember 2015

JT 011215 : Merger COSCO-CSCL Dorong Konsolidasi Pelayaran Global

Sebelum ada isu akuisisi pelayaran APL oleh CMA CGM beberapa waktu lalu, ada isu yang gak kalah hebohnya yaitu rencana 2 (dua) pelayaran besar Tiongkok bakal bersatu, antara COSCO dan China Shipping Container Lines (CSCL).

Entah namanya apa nanti tapi isu ini mencuat setelah industri pelayaran global dipaksa untuk bisa melakukan konsolidasi agar tidak rontok ditengah jalan. Pasalnya, kompetisi dewasa ini sudah sedemikian canggih sehingga harus bisa memainkan peran sebaik mungkin.

Menurut media cetak Wall Street Journal (WSJ), hasil merger ini nantinya akan memiliki dampak besar karena dengan aksi CMA CGM mencaplok APL dan COSCO melebur dengan CSCL, maka komposisi aliansi strategis bakal berubah total.

Pihak Beijing ingin, hasil konsolidasi nantinya bisa berkompetisi dengan rival raksasa sekelas dan maunya sih nih, gak pake pemutusan hubungan kerja (PHK) segala. Tapi apakah mereka sanggup memenuhi tuntutan itu ?

Secara normatif, pasti di-IYA-kan tetap secara faktual bila kondisi keuangan gak nyukupin dan dinilai gak efisien, sori-sori aja PHK kudu dijalanin. Yang udah-udah sih pasti ada PHK dan pasti juga ada pesangon koq. Tapi apa iya mo semuanya pensiun dini ?

Pihak Beijing berpikir keras untuk gak bertindak gegabah, apalagi sampe merumahkan sedemikian banyak pegawai. Karenanya proses merger COSCO-CSCL tergolong alot hingga akhirnya disusul dengan aksi korporasi CMA CGM melibas APL.

Kedua pelayaran RRCina ini merugi hingga USD 911 juta dalam kurun waktu 5 (lima) tahun saja – itu menurut catatan Drewry Shipping Consultant Ltd. Pasalnya, Beijing berharap merger kedua pelayaran ini akan menciptakan pelayaran terbesar ke-4 di dunia.

Pastinya banyak yang diharapkan, selain karena untuk mendorong langkah efisiensi, pengiriman produk dari Tiongkok sedapat mungkin bisa diakomodir oleh pelayaran berbendera palu arit dengan dasar merah darah.

Saat ini, COSCO mengoperasikan 175 kapal dan CSCL menjalankan 156 kapal, dengan posisi sekarang di ranking 6 dan 7 dunia. Posisi 3 (tiga) pelayaran besar didepannya adalah Maersk Line, MSC dan CMA CGM (sebelum dan sesudah mengakuisisi APL, tetap sama urutannya).

Pemerintah Tiongkok sangat peduli dengan perkembangan yang terjadi di luar sana. Makanya, selain mendorong konsolidasi korporasi 2 pelayaran yang berbasis kontainer, pihak Beijing juga mendorong pelayaran berbasis tanker melakukan hal serupa.

Pihak yang dipaksa melakukan maneuver merger adalah : China Merchants Energy Shipping Co dan Sinotrans & CSC Holdings Co.  Upaya ini diakui masih terlalu dini diungkap karenanya kurang begitu muncul dan diketahui public tapi wacana kearah merger, pasti ada.

Bila kedua pelayaran berbasis tanker tersebut maujud suatu hari nanti, bisa dipastikan gabungan pelayaran ini akan melahirkan pelayaran tanker terbesar di dunia – demikian sebagaimana diulas oleh Citi Research.

Ok deh, semoga upaya-upaya yang ada di negeri Tiongkok bisa ditiru oleh pemerintah Indonesia guna memajukan industri pelayaran di Tanah Air. Aamiin YRA.

Sumber : Dari Sana-sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar