Kamis, 22 Mei 2014

JT 220514 : “ZIM” Tuntaskan Restrukturisasi

Ditengah krisis keuangan yang mendera pelayaran Israel, Zim Line, diperparah lagi dengan turunnya permintaan pasar sehingga hukum pasok & permintaan pincang, ujung-ujungnya permintaan tarif Customer bisa terjun bebas.

Belum lama ini, kabarnya pihak Zim Line berhasil menuntaskan program restrukturisasi senilai USD 3 milyar, disertai penyertaan modal segar USD 200 juta dari “Israel Corporation” sehingga perusahaan yang nyaris kolaps ini bisa bangkit kembali.

Ekstrimnya, Zim berniat untuk mengembangkan armadanya dimana di tahun lalu, hampir beberapa kali dilakukan pembatalan konstruksi kapal besar. Harap dimaklumi, Zim merupakan salah satu pelayaran global yang tidak memiliki mitra aliansi strategis di east-west trade serta dalam beberapa tahun belakangan merugi terus.

Kabar beresnya program restrukturisasi cukup mengejutkan semua pihak, setelah sebelumnya Zim diguncang pemogokan cukup serius, yang berakhir dengan penutupan sementara kantor di Haifa dan pelarangan kapalnya untuk pergi berlayar.

Zim Line pada awalnya dimiliki 100 persen oleh Israel Corp. namun kini kepemilikan sahamnya hanya tinggal 32 persen. Pihak pemerintah dan investor mengambil-alih bisnis ini untuk kepentingan nasional sehingga gak aneh bila pemerintah Israel tetap menginginlan kontrol khusus, yakni berupa hak veto / golden share bila ditengarai kebijakan Zim Line berlawanan dengan kepentingan nasionalnya.

Rencana detilnya masih ditunggu oleh banyak pihak. Yuuuuk kita tunggu aja.


Sumber : Dari Sana-sini.

Rabu, 21 Mei 2014

JT 210514 “ “COSCO” Peroleh Kapal 13.386 TEUs "Cosco Italy"

Pelayaran Tiongkok, COSCO, baru saja mendapatkan kapal anyar ke-6 dari total pesanan 8 (delapan) unit seri 13.386 TEUs. Kapal baru ini dipesan Cosco Container Line di tahun 2008 di galangan “Nantong Cosco KHI Ship Engineering” (NACKS).

Kapal baru ini diberi nama “Cosco Italy” dan dibeli per unitnya seharga USD 166,8 juta. Rencananya (jadi tradisi bagi kapal-kapal kontainer baru), setelah melaut kapal ini akan memborong bahan bakar di Rusia.

Cosco Italy akan bertugas di servis Asia Eropa (AE) milik aliansi strategis “CKYHE”, mengikuti saudara kembarnya “Cosco Spain” yang sudah dirilis pada bulan Januari lalu. Kapal ini jadi setahun lebih cepat dari rencana semula. Wooow.

Menurut Alphaliner, NACKS sudah membangun 4 x 9.850 TEUs di tahun 2008 lalu dan kini berkembang dengan membangun kapal lebih gede. NACKS merupakan perusahaan patungan antara COSCO dengan “Kawasaki Heavy Industries” (KHI).

Congrats !

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 20 Mei 2014

JT 200514 : “YML” Sewa Kapal 14.000 TEUs

Kompetisi antar pelayaran global semakin sengit nih. Bila pasar di dalam negeri sedang sedikit melambat akibat peta perpolitikan di Tanah Air belum stabil. Di luar negeri sana, tren perdagangan memang masih kusut alias ngga menunjukkan perkembangan menggembirakan.

Dampaknya, bila volume perdagangan melemah, sementara jumlah pasok ruang kapal (space) yang tersedia melebihi kapasitas, bisa dipastikan harga (ocean freight) bakal morat-marit, kalo gak mau disebut ancur-ancuran. 

Ketegangan di Ukraina, lantas yang belakangan terjadi adalah kemarahan warga Vietnam terhadap kaum urban Tiongkok dan Taiwan, sebagai dampak unjuk kekuatan Negeri Panda membangun salah satu anjungan lepas pantai di pulau yang masih dipersengketakan, bisa mempengaruhi supply & demand.

Terlepas dari itu semua, pelayaran Taiwan “Yang Ming Marine Transport” (lebih dikenal dengan nama “Yang Ming Line” / YML), berencana menyewa 5 x 14.000 TEUs dari “Seaspan Corp.” dimana kapal tersebut akan dibangun di CSBC Shipyard.

Bila keinginan tersebut terlaksana, maka CSBC Taiwan akan membuat rekor membangun kapal diatas 10.000 TEUs untuk pertama kalinya. Bila lancar semua, kapal-kapal ini akan dikirim dalam periode waktu antara Maret – Juni 2016.

Sebagai Chairman YML, Frank Lu menjelaskan, keterlibatan pelayarannya membangun kapal gede ini tiada lain untuk antisipasi permintaan pasar dan menandai sejarah baru dalam pengembangan kapasitas armada yang dimiliki.

Wooow, mantabz deh. Masuk “Klub 14.000 TEUs” nih he he he.


Sumber : Dari Sana-sini.

Senin, 19 Mei 2014

JT 190514 : Kerusuhan Anti-Cina Meluas di Vietnam

Kerusuhan anti-Cina ato anti-Tiongkok semakin meluas di negeri semata wayang, Vietnam. Seperti diketahui dalam beberapa hari ini, suhu bisnis di bumi Vietnam semakin memanas, menyusul aksi nekat negeri Tiongkok membangun anjungan minyak lepas pantai di pulau sengketa.

Bukan hanya Tiongkok yang mengklaim Pulau Paracel tetapi ada 4 (empat) negara lain yang mengincar pulai tersebut : Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam dan Malaysia. Indonesia ? Gak dulu deh dan bukan teritorinya koq malah ngaku-ngaku he he he.

Situasi di kawasan Laut Cina Selatan memanas, lebih tepat lagi eskalasi ketegangan muncul di bumi Vietnam. Sejumlah perusahaan milik pengusaha Taiwan mendadak ditutup karena mulai menjadi sasaran kemarahan warga Vietnam, bahkan sudah menelan korban jiwa.

Hingga hari ini dikabarkan, 2 (dua) orang meninggal dan 129 lainnya terluka. Dalam catatan “Wikipedia”, Vietnam dan Tiongkok pernah terlibat peperangan di tahun 1979 saat tentara Tiongkok menyerang wilayah utara Vietnam disebabkan Vietnam merangsek ke Kamboja di tahun 1978.

Guna menjaga eksistensinya, penguasa Tiongkok akhirnya mendukung pasukan Khmer Merah. Maksudnya, menahan gerakan Uni Soviet kala itu dan infiltrasi Amrik ke perbatasan Tiongkok. Vietnam sendiri terus menerus memanas-manasi Kamboja hingga tahun 1989.

PM Vietnam Nguyen Tan Dung meminta semua pihak untuk menghentikan kekerasan serta sedapat mungkin menghindari kemelut yang bisa memicu kemarahan pihak-pihak yang bertikai. Dengan tutupnya sejumlah perusahaan pabrik sepatu dan baja milik penguasah Taiwan, ekonomi Vietnam bakal melorot ke kondisi mengenaskan.

Serangan ke industri yang terkait dengan perkembangan ekonomi Vietnam bisa berakibat fatal. Merosotnya volume produksi sejumlah komoditi andalan, bisa memporak-porandakan bisnis maritim yang tengah berkembang disana.

Akankah kondisi rusuh berkelanjutan ? Bila pengamat menilai isu ini sebagai balas dendam insiden tahun 1979, sulit ditebak. Karena awalnya, demo atas tingkah laku Tiongkok yang membangun anjungan lepas pantai tsb berlangsung damai.

Lantas, seberapa parahkah kecemburuan sosial warga Vietnam dengan pebisnis warga Tionghoa yang bertumbuh pesat di bumi Vietnam. Kita coba telusuri dan semoga dalam waktu dekat ketegangan yang muncul bisa diakhiri, demi keamanan regional juga.

Ikut prihatin.


Sumber : Dari Sana-sini.     

Minggu, 18 Mei 2014

JT 180514 : "P3" Dorong Pembentukan Aliansi Baru

Apa yang disampaikan oleh analis SeaIntel Maritime, Lars Jensen, mengenai perkembangan terkini di industri palayaran global. Aliansi strategis “P3” yang didukung oleh 3 (tiga) pelayaran besar : Maersk Line, MSC dan CMA CGM, gak akan banyak berpengaruh atas isu overcapacity.

P3 justru diuntungkan karena skala ekonomi kapal-kapal barunya, dibanding milik rival-rivalnya. Istilahnya, P3 memiliki cost-advanrages dibanding para pesaingnya, yang juga mau tak mau didorong membentuk koalisi seperti sikon di peta perpolitikan nasional he he he.

Menurutnya, P3 tidak akan memecahkan permasalahan isu overcapacity, selain memindahkan masalah ke pelayaran lain. Tak ada individual carrier yang memiliki kesamaan visi dan misi serta pola pertumbuhan armada, kecuali dipaksa karena persyaratan aliansi itu sendiri.

Permasalahan fundamental masih nongkrong disana dan bila pelayaran dimaksud gak bergabung dalam aliansi besar tersebut, bisa dipastikan terlibas ato berangsur-angsur terpinggirkan, kecuali modal segambreng dan memiliki strategi jitu.

Masalahnya, semua pelayaran sekarang ini menderita rugi, rugi dan rugi banyak. Pelayaran yang membukukan keuntungan bisa dihitung jari sekarang ini dan kebanyakan spesialis di rute tertentu alias berjuang di niche-market.

Selain P3 saat ini sudah terbentuk aliansi “G6” (APL, MOL. HMM, NYK, H-L dan OOCL) serta “CKYHE” (COSCO, “K” Line, Yang Ming, Hanjin Shipping dan Evergreen Line). Dua besar yang diprediksi bakal membentuk aliansi besar yakni “ UASC dan China Shipping Container Line (CSCL).

Yuuuuk kita ikuti terus perkembangannya ya. Tambah seru aja nih he he he.

Sumber : Dari Sana-sini.

Sabtu, 17 Mei 2014

JT 170514 : “CKYHE” Masuk Xiamen


Xiamen International Container Terminal (XICT), afiliasi dari Hutchison Holdings, belum lama ini memenangkan persaingan dengan pelabuhan lain, sehingga berhasil menggaet aliansi strategis “CKYHE” memilih fasilitas XICT.

Salah satu servisnya, “South China-US West Coast Service” (SEA), kabarnya bakal dimasukkan ke XICT, sehubungan dengan bergabungnya kapal 13.092 TEU yang dioperasikan Evergreen dan COSCO, dimana rotasinya : Taipei – Xiamen – Hong Kong – Shenzhen / Yantian – Long Beach – Los Angeles – Taipei.

Selain SEA, CKYHE bakal menominasikan servis “CALCO/PSW1” yang dioperasikan bersama antara “K” Line dan Wan Hai Lines (WHL). Pembeli slot di servis ini adalah COSCO, Hanjin, Yang Ming dan PIL.

XICT memiliki panjang demaga 1.083 meter dan darft 17,5 meter sehingga memungkinkan untuk menangani kapal dengan bobot hingga 150.000 dwt. Calco/PSW1 mengoperasikan 6 unit kapal bervariasi, mulai 5.600 TEUs hingga 6.040 TEUs.

Adapun rotasi pelabuhannya : Hong Kong – Shenzhen / Yantian – Xiamen – Long Beach – Shenzhen / Yantian. 

Congrats !

Sumber : Dari Sana-sini.

Jumat, 16 Mei 2014

JT 160514 : "Malaysia Airlines" Berhemat Keras

Akibat hilangnya sebuah pesawat bernomor penerbangan MH370 tempo hari, kredibilitas maskapai penerbangan negeri Jiran tersebut, seolah dipertaruhkan. Bisa terkena krisis keuangan akibat besarnya beban biaya yang dikeluarkan untuk misi pencarian hingga tuntutan ganti rugi.

Malaysia Airlines (MAS) kini cukup kerepotan akibat kisah misterius yang melingkupi MH370. Bahkan pihak MAS sudah menawarkan untuk menjual beberapa unit pesawatnya. Padahal sebelum kejadian MH370, MAS berniat membeli pesawat penumpang anyar 'loh.

Keadaan berubah total. Begitulah, manusia hanya berencana dan bila Tuhan berkehendak lain maka harus disiapkan acuan lain. Kini MAS selain berencana menjual sebagian asetnya, kabarnya untuk pengembangan bisnis mulai menggunakan strategi menyewa pesawat saja daripada membeli.

Sebelum kejadian tragis tsb, pihak MAS tadinya memperkirakan bakal "break even" di tahun 2014 ini, setelah 3 (tiga) tahun berturut-turut merugi. Hasil kuartal 1 – 2014 saja yang berakhir Maret 2014, membukukan kerugian MYR 443,4 juta (= USD 138 juta).

Sempat ada isu, MAS bakal diprivatisasi namun dibantah oleh manajemen MAS namun tidak menampik bila MAS berniat menjual engineering business-nya. Tumbuhnya low-cost carrier (LCC) dan serbuan maskapai penerbangan Timur Tengah turut menyebabkan persaingan semakin ketat.

Kabar terakhir, pihak MAS akan mempensiunkan pesawat Boeing 737-400 per tgl 15/06 serta menggantikannya dengan seri terbaru B737-800 yang dinilai lebih efisien dan hemat bahan bakar. Monggo.

Sumber : Dari Sana-sini.