Selasa, 05 Januari 2016

JT 050116 : CCO Maersk Line Lengser


Entah ngimpi apa sebelumnya, bisa jadi Schueler agak shock saat mendengar dirinya masuk dalam program efiensi dari sebuah grup usaha besar. Dia termasuk diantara 110 orang yang kehilangan pekerjaan dalam mingu-minggu ini.

Dialah Chief Commercial Officer (CCO) Maersk Line, Stephen Schueler, yang baru join di perusahaan pelayaran terbesar di dunia sejak 3 (tiga) tahun lalu. Kabar ini dirilis oleh media Lloyd’s List blon lama ini.

Rencana penghematan ini resmi diumumkan sejak bulan lalu dan bakal mengurangi jumlah tenaga kerja hingga 4.000 orang, menjadi 19.000 staf antara saat ini hingga tahun 2018 mendatang. Eng ing eng …. Serem juga ya ?

Maersk Line kantor pusat pun gak urung kena program efisiensi ini, semisal pengurangan jumlah regional office dari 8 (delapan) menjadi 7 (tujuh) doank. Artinya, area Asia Utara dan Asia Pasifik bakal dilebur jadi 1.

Lantas, Schueler kemana ya ? Keppo deh. Kabarnya sih pulang kampung dan pengen mudik sama keluarganya di Amrik. Gitu. Selepas ditinggal Schueler, bagaimana wajah restrukturisasi yang ada ? Commercial dan Trade & Marketing dilebur jadi 1 dibawah koordinasi trades director Vincent Clerc.

Sikon ekonomi yang melanda semua industri disikapi dengan cara berbeda, namun tujuannya sama : menyelamatkan perusahaan dengan program pemangkasan ato restrukturisasi organisasi. Hmm ….

Jika gak aral melintang, pihak Maersk Line memperkirakan setiap tahunnya bakal menghemat USD 250 juta. Jumlah yang gak sedikit. Toooop deh walau miris bagi yang kena program efisiensi tersebut. Ikut prihatin.

Sumber : Dari Sana-sini.

Senin, 04 Januari 2016

JT 040116 : Otoritas Tiongkok Setuju Merger China Merchant + Sinotrans


Gak perlu nunggu waktu lama bagi otoritas Tiongkok untuk menyetujui rencana merger 2 (dua) perusahaan gede yang mo disinergikan, yaitu antara China Merchant dengan Sinotrans & CSC Holdings Co. – demikian sebagaimana dikutip oleh kantor berita Reuters.

Menurut majalah keuangan setempat, Caixin, nilai merger kedua perusahaan kelas kakap tersebut mencakup aset China Merchant CNY 624 milyar (= USD 96 milyar) dengan Sinotrans & CSC Holdings CNY 109 milyar.

Dahsyatnya merger kedua perusahaan ini dinilai saling melengkapi. China Merchant bergerak di sektor kepelabuhanan, jasa keuangan dan pelayaran, sementara Sinotrans & CSC Holdings banyak menggarap sektor logistik dan persewaan kapal.

Integrasi ini memungkinkan Tiongkok memainkan peran untuk berkiprah di industri pelayaran dan logistik global dimana sebelum ini terjadi, otoritas RRCina juga sudah menyetujui akuisisi pelayaran COSCO atas aset China Shipping Container Line (CSCL).

Melihat keseriusan pemerintah di Negeri Panda, kadang ngiri juga kita ini, kapan di negeri ini mo menggarap sektor kemaritiman dengan serius supaya industri pelayaran dan logistiknya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Serasa masih mimpi ...

Ingat aja ya, mulai 01/01/16 gerbang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah diberlakukan dan siap-siap kita menanti serbuan produk negeri tetangga bila kita masih berpikir dan berlaku seperti di tahun 2015 lalu. Tamatlah sudah.

Lakukan yang terbaik dan bergeraklah sedikit ekstrim. Wooow !

Sumber : Dari Sana-sini.

Minggu, 03 Januari 2016

JT 030116 : Patimban Dipilih Gantikan Cilamaya


Indonesia seperti kehabisan lahan untuk membangun pelabuhan anyar. Diganjal ato ada keperluan politis ? Beuuuh sulitnya mengembangkan bisnis kepelabuhanan di negeri ini. Ada aja kendalanya ato bisa jadi, kajian studi kelayakannya gak mumpuni ? Entahlah.

Seba misterius. Gitu kesan kita orang awam. Makanya tempo hari saat meledaknya isu Cilamaya akan dijadikan pelabuhan pendamping Tanjung Priok, spontan berbagai isu pro dan kontra muncul. Begitulah.

Setelah 1-2 tahun berlalu, disaat para spekulan membeli tanah di area sekitar Cilamaya, akhirnya harus menelan pil pahit dan kecewa. Kini pemerintah berancang-ancang memilih Patimban, Subang, Jawa Barat sebagai opsi yang jozz.

Hingga sore kemaren, bisa jadi kita gak pernah mendengar bahwa Patimban bakal dijadikan pelabuhan alternatif pengganti Cilamaya. Namun hari ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bobby R. Mamahit bilang hasil studi dari konsultan swasta, mengarah kesana tapi blon ditetapkan loh ya secara resmi.

Konsultan yang ditunjuk Kemenhub, PT Raya Surverindo Tirtasarana, mengkaji sembilan wilayah a.l. Tarumanegara Bekasi, Patimban Subang, Pusakajaya Karawang, Eretan dan Balongan Indramayu dan Pelabuhan Cirebon.

Adapun pertimbangan dipilihnya Patimban karena area ini gak memiliki kegiatan offshore seperti Cilamaya. Selain itu, Bobby ngejelasin wilayah ini termasuk yang dekat dengan pusat industri di Karawang dan Cikarang.

Wes top markotop. Tinggal maju ke Menhub dan dilaporkan ke Presiden RI. Jika semuanya lancer, tinggal menggelar tender dan cari kontraktor yang kompeten, jadi deh. Kita tunggu kelanjutannya dan janagn sampe pindah ato molor lagi.

Sumber : Dari Sana-sini.

Sabtu, 02 Januari 2016

JT 020116 : MSC Balik Mampir Ke Iran (Lagi) Setelah 6 Tahun Absen

Pelayaran terbesar ke-2 di dunia, Mediterranean Shipping Co. (MSC) udah balik lagi masukin kapal ke Iran, setelah 6 (enam) tahun lamanya absen – demikian bunyi berita dari kantor berita gak resmi Teheran, Tasnim News Agency.

Sebelum akhir tahun 2015, ada sinyal bahwa sanski ekonomi atas Iran oleh sejumlah Negara sekutu yang dipimpin Amrik, menyiratkan untuk segera dicabut. Alasannya, Iran udah kooperatif untuk urusan pabrik senjata nuklirnya. Begitu kira-kira.

Kini, menjelang era keterbukaan pasar Iran, sejumlah pelayaran langsung merespon dan merevisi rute pelayarannya sehingga pelabuhan di Iran, potensil menjadi target kunjungan kapal kontainer, seperti Bandar Abbas dan Shahid Rajaee.

Kabarnya, di malam pergantian tahun 2015 ke 2016, kapal MSC yang bernama MSC Domitille mampir ke pelabuhan ke-2 terbesar di Iran, Shahid Rajaee dan membongkar 1.162 TEUs ex muatan dari Shanghai, RRCina.

Kapal MSC Domitille memiliki kapasitas 9.400 TEUs dan menjadi salah satu kapal besar yang masuk ke Shahid Rajaee blon lama ini dan kapal pertama yang masuk ke Iran kembali setelah absen selama 6 (enam) tahun.

Kapal MSC yang terakhir kali mampir ke Iran yaitu MSC Beatrice (kapasitas 14.000 TEUs) di tahun 2009, yang kebetulan sandar di Shahid Rajaee. Untuk diketahui, kesepakatan pencabutan embargo disepakati oleh Grup 5+1 di sekitar bulan Juli tahun lalu.

Ke-5+1 negara dimaksud yakni Rusia, Tiongkok, Amrik, Jerman, Perancis dan Inggeris. Petinggi sekaligus CEO MSC, Diego Aponte menyambut hangat kesepakatan tersebut dan langsung melakukan lawatan ke Iran serta mendukung kerjasama dengan IRISL.

Bagaimana tindaklanjut antara MSC dengan pelayaran Iran tersebut, masih dalam pengamatan semua orang. Langkah apa nih yang bakal ditempuh ? Khan MSC udah punya deal dengan Maersk Line di 2M. Lantas dengan IRISL mo kerja bareng dimana ya ?

Tunggu aja tanggal mainnya dan biar skalian bikin penasaran deh he he he. Cheers.

Sumber : Dari Sana-sini.