Jumat, 03 November 2017

JT 031117 : TRF Kaya Vs Om Iridium

Sekali lagi, ini bukan pertarungan olahraga tetapi tabrakan di perairan yang menyebabkan, jika tidak korban jiwa ya pastinya kerusakan kapal. Kali ini yang terjadi adalah kapal kontainer TRF Kaya ditabrak / disenggol kapal lainnya yang diidentifikasi sebagai Om Iridium.

Keduanya kapal milik Jerman dan kejadiannya jauh dari tanah aslinya, Vietnam. Kejadian tabrakan tsb terjadi di Sungai Dong Nai, dan kapal TRF Kaya mengalami kerusakan sedangkan Om Iridium masih blon bisa dikonfirmasi.

Detil kapal yang terlibat dalam tabrakan tersebut : kapal kontainer OM IRIDIUM, IMO 9337030, bobot 27.209 dwt, kapasitas 2.015 TEUs, dibangun 2008, bendera Liberia, operator Reederei O. Marten GmbH & Co. KG, Jerman.

Sedangkan data TRF Kaya merupakan kapal kontainer, IMO 9330549, bobot 39.338 dwt, kapasitas 2.824 TEUs, buatan 2007, bendera Liberia, operator Reederei F. Laeisz G.m.b.H, Jerman.

Kejadiannya dekat Cat Lai Container Terminal pada hari Kamis tgl 02/11. Sebuah kontainer 40 feet kabarnya rusak berat dengan isinya berhamburan keluar dan jatuh di sungai. Masih diinvestigasi oleh pihak berwenang penyebab kecelakaan.

Sumber : Dari Sana-sini.

Kamis, 02 November 2017

JT 021117 : Kapal Pollux Hantam Dermaga Bremerhaven

Kecelakaan ikut mewarnai aktifitas dunia kemaritiman dari waktu ke waktu. Sebuah kecelakaan kecil terjadi, saat kapal kontainer MV Pollux, berkapasitas 880 TEUs mengalami kerusakan mesin saat memasuki pelabuhan Bremerhaven dan menghantam dermaga.

Kapal berbendera Antigua dan memiliki berat 14,670-dwt ditahan pihak berwenang untuk keperluan investigasi dan proses perbaikan kapal masih terus berlangung, akibat tabrakan diatas.

Kapal Pollux dibuat tahun 2009 dan dikabarkan dioperasikan Leonhardt & Blumberg Shipmanagement GmbH & Co, Hamburg.

Sumber : Dari Sana-sini.

Jumat, 20 Oktober 2017

JT 201017 : Penahanan CEO Hanjin Ditangguhkan

Beberapa hari lalu santer dikabarkan bahwa mantan boss Hanjin Group dan Korean Air akan ditahan dengan indikasi tuduhan penyelewengan dana perusahaan alias korupsi. Namun hal tersebut gak terbukti akibat kurangnya bukti sehingga rencana penahanan pun batal.

Cho Yang-ho, dianggap bertanggung jawab atas keruntuhan salah satu pelayaran besar asal Korea, Hanjin Shipping (HJS) yang hingga kini masih misterius. Koq bisa ya perusahaan pelayaran segede HJS rontok.

Menurut kabar yang dilansir newssite Chosun Ilbo, pihak otoritas terkait tengah mencari bukti2 baru untuk menjerat Cho. Pihak kepolisian Korea Selatan menindaklanjuti sebuah laporan bahwa Cho menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Hal tersebut sempat dimuat juga oleh ch-aviation dari Swiss, Cho menggunakan uang tunai untuk merenovasi rumahnya hampir senilai KRW 3 milyar dan sebuah jumlah yang cukup besar dan hingga kini masih banyak orang yang blon percaya.

Pihak kepolisian, dalam hal ini Special Investigation Division dari National Police Agency terus akan mendalami kasus ini dan mencari bukti2 baru agar Cho bisa ditahan dan dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Raksasa pelayaran asal Korea Selatan kala itu, Hanjin Shipping dinyatakan bangkrut secara resmi oleh Seoul Central District Court pada tgl 17/02/17 ato hanya 6 (enam) bulan setelah isu receivership muncul dan mengakhiri kejayaan 40 tahun kerajaan bisnis HJS.

Ironis bingitz ya … Baca juga info sebelumnya di JT 171017 : Boss Hanjin Diduga Lakukan Korupsi

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 17 Oktober 2017

JT 171017 : Boss Hanjin Diduga Lakukan Korupsi

Buntut dari rontoknya perusahaan pelayaran gede asal Korea Selatan, Hanjin Shipping (HJS) terus dilacak dan kabarnya, pihak kepolisian akan menahan mantan boss Korean Air dan Hanjin Group, Cho Yang-ho.

Kabar2 teranyar mengindikasikan bahwa Cho menggunakan dan menyedot habis dana perusahaan sebesar KRW 3 milyar (= USD 2,65 juta) untuk merenovasi rumahnya di Seoul, untuk masa pengerjaan selama 15 bulan antara tahun 2013 dan 2014.

Namun Cho menolak tuduhan tersebut dan menilai ada yang menggunakan isu tersebut untuk mencari kambing hitam atas rontoknya perusahaan pelayaran prestius tersebut. Cho memang menjadi salah satu pemegang saham minoritas tetapi entah penyebab pastinya dari indikasi diatas.

Simak terus penelusuran selanjutnya ya.

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 19 September 2017

JT 190917 : DP World Cabut Dari Surabaya Tahun 2019

Pihak DP World memutuskan gak lama lagi bakal cabut dari Surabaya dan gak memperpanjang kontrak dengan pihak PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) yang akan berakhir tahun 2019. Menurut Chairman DP World Group, Sultan Ahmed bin Sulayem kurang menguntungkan.

Pihak DP World merasa kecewa dengan tawaran yang diajukan otoritas terkait di Indonesia. DP World memiliki saham di TPS 49% yang memiliki thruput 2,1 juta TEUS per tahun sedangkan DP World sendiri memiliki thruput seluruh dunia 85 juta TEUs per tahun.

Juli 2017 lalu, pihak DP World tetap berupaya menjalin hubungan baik dengan pemerintah Indonesia dan menjalin kerjasama teknis untuk pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung dan Belawan di Sumatera Utara.

DP World berhasil memasuki Indonesia, setelah sebelumnya mengakuisisi saham P&O Port di tahun 2006. Setelah itu pihak DP World selama hampir 20 tahun memperbarui segenap peralatan, sistem dengan investasi besar tetapi akhirnya harus hengkang.

Entah atas dasar apalagi, TPS akan menawarkan kerjasama kedepannya dan bagaimana sikap DP World dalam mengembangkan Kuala Tanjung kelak ? Jangan kapok ya bozz. Ya gitu adanya.


Sumber : Dari Sana-sini.

Rabu, 02 Agustus 2017

JT 020817 : HMM Bantah Saingi YML

Persaingan di industri maritim dunia masiiiiih aja panas dan membara. Padahal dekat dengan air laut tinggal nyiram supaya adem he he he. Pasalnya, pelayaran yang baru sembuh secara bertahap dari keterpurukan, Hyundai Merchant Marine (HMM) dikabarin mo lepas landas.

Mo kemana lagi ? Itu pertanyaannya. Wong baru juga sembuh dari sakit koq mo ngutang banyak lagi, khan gak mungkin bingitz. Rupanya beredar isu, HMM lagi nyari duit gede untuk bisa menggeser posisi Yang Ming (YML) yang kini berada di peringkat ke-8 operator dunia.

Bagi HMM, saat ini bisa menempel dengan aliansi strategis 2M aja merupakan kebanggan tersendiri. Bayangin bisa kerja bareng pelayaran kelas kakap seperti Maersk Line dan Mediterranean Shipping Co. (MSC) gak segampang membalik telapak tangan.

Perlu strategi dan usaha khusus sehingga 2M bisa mengijinkan HMM ndompleng nama besar mereka. Konsesinya pasti ada sendiri, gak mungkin bingitz gratisan gitu. Bisnis hitungannya ya kudu bisnis juga. Itu intinya.

HMM disebut-sebut membutuhkan duit hampir USD 9Milyar dari Korea Development Bank (KDB) yang kini menjadi pemegang saham HMM, untuk menggeser posisi yang YML dari singgasana operator terbesar ke-8 di dunia.

Menurut media Business Korea, sebuah konsultan manajemen AT Kerney memang tengah diminta oleh HMM untuk mencarikan dana USD 8,9M tetapi tujuannya untuk ekspansi bisnis. Bukan seperti yang dihembuskan para hoax-er alias peniup isu gak bertanggung jawab.

HMM berniat membangun armada kapal kontainer canggih senilai USD 5M, USD 2,9M membeli kontainer anyar @ USD 1.800 dan USD 900 juta kabarnya untuk membeli terminal kontainer di luar negeri,  Jelas khan ?

Tetapi sumber internal HMM menolak berkomentar perihal program jangka menegah, apalagi jangka panjang selain mencoba memperbaiki kinerja jangka pendek, bagaimana caranya bisa tetap survive dan bisa terus berkompetisi dengan pelayaran lain.

Posisi HMM saat ini berada di ranking 15 dunia, dari total 100 pelayaran global. HMM memiliki agregat 344.681 TEUs dengan market share 1,6 persen. Setidaknya membutuhkan 239.842 TEUs klo mo nyaingin YML ato loncat 7 anak tangga ke posisi 8.

Hmm … bagus juga sih. Gak usah dengar ocehan semua orang deh. Fokus aja dulu ke program didepan mata. Good Luck !

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 01 Agustus 2017

JT 010817 : CMA CGM Order Kapal 22.000 TEUs

Pemecahan rekor membangun kapal gede - skali lagi nih - memang udah menjadi kebutuhan tetapi bisa juga menjadi ajang persaingan untuk membuktikan, siapa sih pelayaran yang masih eksis dan bisa mengoperasikan kapal segede mungkin namun secara skala ekonomi pun harus bisa memberikan keuntungan bagi para Pelanggannya.

Disebut-sebut, pelayaran Perancis udah siap bakal ngorder kapal berukuran 22.000 TEUs dan kandidat yang masuk ada 2 (dua) nama yaitu Shanghai Waigiaoqiao Shipbuilding (SWS) dari Tiongkok dan Hyundai Heavy Industries (HHI) dari Korea Selatan. Sejauh ini, cuma dua nama itu aja yang berebut order.

Klo semuanya lancar, niatan CMA CGM membangun kapal 22.000 TEUs bakal menggeser rekor awal tahun ini dimana OOCL Hongkong yang memiliki kapasitas 21.413 TEUs milik OOCL dan dibuat Samsung Heavy Industries (SHI), Korea Selatan saat ini memegang rekor sebagai kapal kontainer terbesar di dunia.

Seorang pengamat mengatakan, niatan pelayaran Perancis ini semacam kampanye ala kosmetik tetapi walau beda 100 ato 200 TEUs lantas men-declare menjadi yang tergede, itu sih sah2 aja dan semua pelayaran melakukan itu. Jarang ada yang buat kapal dari 20.000 TEUs jadi 30.000 TEUs alias loncatannya ajaib. Never !

Bagi praktisi umum, kapal segede gini, gimana juga ngisinya ? Emang udah ada studi kelayakan  (baca : FS) tapi khan kondisi perekonomian dunia masih memble gini. Buktinya, banyak pelayaran global saling merger ato diakuisisi, itu menandakan persaingan di industri pelayaran sangat rentan terhadap isu sentral yaitu tarif.

Bagaimana kelanjutan ceritanya ? Yuuuk kita simak bareng2 aja. Piiiis.

Sumber : Dari Sana-sini..