Minggu, 11 Agustus 2019

JT 110819 : Alphaliner Revisi Angka Pertumbuhan


Boleh dibilang menyesuaikan diri, seiring dengan perkembangan eksternal yang ada. Pasar global sejak akhir tahun 2018 terus dibayangi isu perang dagang antara Amrik dan Tiongkok. Kapan selesai, gak ada yang tahu.

Awalnya, rumah riset Alphaliner memperkirakan prediksi pertumbuhan industri pelayaran berbasis kontainer (global container thruput) tahun 2019 di angka 3,5 persen tetapi minggu lalu direvisi menjadi 2,5 persen doank.

Apa pasal ? Revisi diatas dikeluarkan, setelah Dana Moneter Internasional (International Moneytery Fund/IMF) di bulan Juli lalu pun merevisi makalah World Economic Outlook, GDP global dari 3,3 persen ke 3,2 persen sedangkan pertumbuhan volume perdagangan pun disesuaikan, dari 3,4 persen menjadi 2,5 persen.

Pihak Alphaliner mencatat bahwa container thruput masih oke-oke aja sampe dengan kuartal 2 tahun 2019 (Q2). Rata2 masih 2,8 persen untuk periode kuartal 2 (Apr-Jun). Penurunan ini dialami sejak kriris keuangan ditahun 2008 lalu sampe sekarang. Demikian catatan Lloyd’s List.

Sumber : Dari Sana-sini.

Jumat, 09 Agustus 2019

JT 090819 : Shipper Bakal Kesulitan Space Ke Eropa


Pertanyaannya, kenapa bisa begitu ? Kenapa ngga juga lah yaw. Melihat perkembangan belakangan, ngototnya perang dagang antara Amrik & Tiongkok serta dampaknya terhadap negara sekitar.

Klo situasi gak mendukung, pilihannya Customer memilih menahan beli barang, mirip dengan sikon saat Indonesia menghadapi pemilihan presiden alias pilpres di mid-April 2019 lalu. Volume barang seperti tersendat dan susah banget naiknya.

Kini giliran Eropa yang bakal dilanda kesulitan ruang kapal (space) akibat sejumlah perusahaan pelayaran membatalkan jadual reguler dan Pelanggan kudu siap2 dengan berbagai pilihan yang kadang gak bisa diterima akal sehat he he he.

Salah satunya,pelayaran CMA CGM yang bakal membatalkan servis Asia-Eropa di Loop FAL 1, jadual keberangkatan (ETD) dari Dunkirk 21/08 serta FAL 3, ETA RTM 11/09. Klo dilihat waktunya, cukup lama loh.

Pihak CMA CGM menyampaikan rencana pembatalan tersebut, fluktuasi antara permintaan + pasok barang (supply + demand) di rute Asia ke Eropa dan juga sebaliknya. Daripada merugi berat, mending dibatalin dulu deh.

Untuk diketahui nih, selain CMA CGM, mitra kerja di aliansi strategis pun melakukan hal serupa sehingga ditaksir sekitar 150.000 TEUs bakal lenyap dari statistik Agustus + September tahun ini. Sedemikian jelekkah prospek bisnisnya ?

Bagi eksportir, jelas pembatalan seperti membuat prediksi sedikit bergeser dan yang paling menjengkelkan biasanya uang tambang (ocean freight) lambat laun dikerek naik karena space kapal terbatas, permintaan bertambah he he he. Biasa, orang dagang.

Nah, dari sekarang mending udah bersiap-siap daripada pas hari-H malah kelimpungan cari alternatif. jadi selama Agustus - September bersiap2 dengan segala opsi. Go Hunting Go !

Sumber : Dari Sana-sini.

Kamis, 08 Agustus 2019

JT 080819 : Galangan Korsel Siap Hadapi Cina


Persaingan selalu menimbulkan ketegangan, apalagi bila sudah melibatkan antar negara. Sesama perusahaan dalam sebuah negara aja udah rame, apalagi melibatkan pemerintahan yang berbeda.

Adalah Korea Selatan (Korsel) yang cukup geram dengan aksi Tiongkok dalam melebur ato menggabung-gabungkan galangan kapalnya supaya lebih gede, mirip dengan sektor industri pelayaran-nya. Cina menganggap, klo mo gede, ya gede skalian, jangan nanggung2.

Blon lama ini, surat kabat Financial Times (FT) yang berbasis di London, merilis berita bahwa 2 (dua) galangan kapal yang bermarkas di Beijing bakal dimerger, yakni China State Shipbuilding Corp. (CSSC) + China Shipbuilding Industry Corp. (CSIC). Jadi apa nantinya, blon tahu juga sih.

CEO Hyundai Heavy Industries (HHI), Ka Sam-hyun yang menjadi galangan kapal terbesar didunia saat ini, menaggapi berita diatas dengan nada positif tapi jantung berdegup kenceng tuh he he he.

Menurutnya, shipyard Tiongkok akan bersinergi, lebih moderen dan memacu pengembangan teknologi sehingga akan semakin bersaing di masa depan. Pastinya, HHI ketir2 juga klo ngeliat apa yang sudah terjadi di industri pelayarannya.

Bagaimana orderan perusahaan pelayaran asing kedepannya ? Apakah akan tetap berkiblat ke Korsel ato mulai menoleh ke Cina juga ? Lagi, hanya waktu yang akan menjawa tapi kita tetap monitor secara seksama ya. Biar apdet terus infonya.

Sumber : Dari Sana-sini.  

Jumat, 12 Juli 2019

JT 120719 : Online Biz Minimalisir Biaya Gudang

Pengiriman secara metode DROP berkembang pesat di era biz e-commerce karena memangkas biaya sewa gudang dan barang langsung dikirim ke produsen, grosir ato pengecer lain. Intinya lebih hemat.

Semua orang ingin fokus pada pemasaran dan tidak menghabiskan waktu dan uang untuk infrastruktur dan memegang produk. Mereka tidak punya waktu untuk berurusan dengan pergudangan dan biaya2 tak terduga lainnya – demikian ungkap Wakil Presiden eShipper Imtiaz Kermali.

Mereka ingin memusatkan sumber daya mereka pada konsumen akhir dan tidak terjebak dengan pemenuhan. Konsep diatas memiliki daya tarik yang kuat untuk pedagang online, terutama para pemula, lapor Loadstar London.

Pelanggan Brampton, perusahaan Ontario sebagian besar adalah perusahaan kecil dan menengah yang "mendapatkan akses ke sejumlah pemasok tanpa harus memesan dalam jumlah besar. Itu satu keuntungan besar," kata Direktur eShipper, Mo Datoo.

Masih banyak lagi perusahaan pemula ato start up yang memilih sistem pengiriman dengan DROP selain memotong banyak jalur birokrasi, juga dianggap bisa memenuhi kriteria perusahaan pemula. Apalagi sejak biz e-commerce booming ketersediaan gudang di Amrik khususnya, juga menjadi semakin terbatas.

Menurut penyedia perangkat lunak e-commerce Americommerce, 22-33 persen dari seluruh industri e-commerce menggunakan pengiriman drop sebagai model manajemen persediaan utama. Mengingat lonjakan biaya pergudangan, logistik dan ekspektasi Pelanggan yang tinggi, daya tarik konsep ini sepertinya tidak akan pudar dalam waktu dekat.

Hmm tantangan baru lagi nih. Pemanfaatan IoT, penggunaan drone dan adanya kemudahan metode pengiriman DROP membuat dunia biz dalam 5 tahun kedepan akan mengalami pergeseran significant.

Gambaran diatas memang tengah terjadi di belahan dunia sana tapi percayalah, lambat laun akan merembet juga ke Indonesia. Bersiaplah untuk selalu berubah karena iklim bisnis saat ini berbeda dengan periode sebelumnya.

Waspada, waspada, waspada.

Sumber : Dari Sana-sini.

Kamis, 11 Juli 2019

JT 110719 : Temuan Kokain Terbesar Di Kapal MSC


Sebuah kontainer yang mengangkut kokain seberat hampir 20 ton, diatas kapal MSC Gayane (11.600 TEUs) yang berhasil ditangkap oleh pihak pengawas perbatasan Amrik (US Customs & Border Protection / US CBP), bisa jadi merupakan temuan kiriman terbesar narkoba hingga saat ini.

Kapal MSC Gayane sandar di Port of Philadelphia tanggal 16/06 lalu dan menghebohkan para pelaku bisnis hingga pengamat. Pendapat hukum menyampaikan bahwa kapal akan disita.

"Penyewa bertanggung jawab atas semua yang terjadi di kapal dan mengembalikannya kepada pemiliknya," ujar CEO Karatzas Marine Advisors & Co, Basil Karatzas. Hmm berat juga ya.

Kontainer yang gak terlibat dalam penyitaan kokain diatas, sudah dipindahkan ke kapal MSC lainnya. "MSC membantu dan bekerja sama dalam cara apa pun yang mungkin dengan pihak berwenang dan bukan target penyelidikan," kata pernyataan perusahaan.

MSC kemungkinan akan menanggung biaya harian untuk kurun waktu yang cukup panjang. Karatzas memperkirakan bahwa biaya docking bisa mencapai hingga USD 2.000 per hari dan biaya asuransi hingga USD 10.000 per hari.

Enam awak kapal telah dituduh berkonspirasi untuk memiliki kokain di atas kapal ini. Menurut Jaksa AS untuk distrik timur Pennsylvania William McSwain, petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (US CBP) memperoleh surat perintah untuk menggeledah kapal yang dioperasikan oleh Mediterranean Shipping Company, papar MarketWatch New York.

McSwain mengatakan, penahanan 11.600-TEUs berbendera Liberia yang dibuat pada 2018 kemungkinan disita di Amrik, dan penyelidikan federal akan terus berlanjut.
Bagaimana kelangsungan kasus ini. Simak terus liputannya disini.

Sumber : Dari Sana-sini.

Rabu, 10 Juli 2019

JT 100719 : Unifeeder Operasikan Servis Swedia – Polandia


Jaringan feeder bagi sebagian pelayaran global menjadi salah satu kebutuhan penting karenanya feeder operator juga harus inovatif agar apa yang diinginkan global carriers bisa terpenuhi.

Salah satu pemain feeder di Eropa, Unifeeder yang berasal dari Denmark kabarnya membuka layanan baru dari Gavle + Norrkoping (Swedia) ke Gdynia + Gdansk (Polandia) – demikian menurut laporan media Sea News.

Pihak Unifeeder berasumsi bahwa layanan baru ini mempertimbangkan Gdansk sebagai transshipment port penting di area Baltik, demikian pulan Gdynia yang dinilai sebagai gerbang memasuki Eropa dari wilayah timur.

Kapal pertama akan mulai beroperasi tgl 10/08 mendatang dari Gdansk dan tiba di Gavle tgl 12/08. CEO Gavle Port, Fredrik Svanborn berpromosi bahwa pihak mendorong kargo ekspor impor yang ramah lingkungan, serta didukung juga moda kereta api (KA).

Gavle Hamn AB + operator terminal Yilport membenamkan investasi SEK825 juta (= USD 87,367 juta) untuk memperluas terminal sehingga nantinya dapat meng-handle 600.000 TEUs pertahunnya dan mampu menampung kapal besar di tahun2 mendatang.

Congrats !

Sumber : Dari Sana-sini.

Selasa, 09 Juli 2019

JT 090719 : SHI Selesaikan Kapal Terbesar Di Dunia, MSC Gulsun 23.756 TEUs


Belakangan ini, pelayaran blasteran Italia-Swiss banyak mendominasi peluncuran kapal anyar dan nyaris selalu memecahkan rekor dari sisi kapasitas muatnya, Mediterranean Shipping Co. (MSC).

Galangan kapal yang dipercaya membangun kapal kontainer segede ini adalah Samsung Heavy Industries (SHI), Korea Selatan. Bukan nama baru tapi SHI menyampaikan bahwa kapal MSC Gulsun (kapasitas 23.756 TEUs) merupakan kapal kontainer terbesar saat ini.

Spesifikasi panjang kapal anyar ini yakni panjang total 400 meter ato seluas 4x lapangan sepakbola standar internasional, lebar 61,5 meter dan tinggi 33,2 meter. Wooow bingitz.

Prestasi lain SHI adalah saat di tahun 2015 berhasil mendapatkan tender konstruksi kapal kontainer terbesar saat itu dari Mitsui O.S.K Lines (MOL) sebanyak 4 unit kapal berkapasitas 20.100 TEUs.

Kini seiring perkembangan kompetisi terbuka di alam liberalisasi, SHI masih tetap eksis dan mencoba terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu yang terkuat didunia.

Kesempatan membangun armada baru ini datang setelah di bulan September 2017 dan pihak SHI menyanggupi membuat 6 unit kapal sedangkan 5 lainnya dibuat oleh Daewoo Shipping Marine Engineering (DSME).

Kapal anyar ini dilengkapi mesin utama, G95ME-C9.5, buatan MAN Diesel & Turbo. Kode “G” tadi merupakan disaib kapal teranyar dan menghemat bahan bakar serta bisa meningkatkan efisiensi tingkat dewa.

Congrats !

Sumber : Dari Sana-sini.