Selasa, 08 Desember 2015
Senin, 07 Desember 2015
JT 071215 : Shanghai Waigaoqiao Jadi Galangan Pertama 20.000 TEUs di Tiongkok
Reputasi Negeri Panda dalam membangun apapun
yang serba besar, gak diragukan lagi. Rel terpanjang di dunia, pelabuhan
terbesar dalam hal volume hingga sekarang merambah industri galangan kapal (shipyard).
Shanghai Waigaoqiao Shipbuilding Co.
(SWS) akan dicatat
dalam sejarah negeri Tiongkok
sebagai galangan pertama yang sanggup membangun kapal kontainer berkapasitas 20.000 TEUs – yang selama ini
didominasi oleh Korea Selatan dan Jepang.
Kapal
terkini, SWS bakal ngedapetin order dari pelayaran COSCO Container Lines, totalnya ada 3 (tiga) unit. Kapal ini menjadi kapal terbesar yang dibuat di Cina
daratan dalam beberapa tahun belakangan.
Kapal ini
bakal didisain khusus, artinya dilengkapi fitur route-specific container stowage (RSCS) dari biro klasifikasi DNV-GL, yang memberikan ruang
fleksibilitas bagi kontainer isi di rute tertentu – demikian laporan Motorship dari Fareham, Inggeris.
Selain itu,
kapal ini didisain untuk siap dengan
bahan bakar gas (gas ready) alias LNG-fuelled propulsion. Aslinya, kapal
ini hasil rancangan Marine Design &
Research Institute of China (MARIC).
Karena konsistensi
dan inovasi yang dipegang teguh oleh SWS, menjadikan galangan ini sebagai
shipyard pertama RRCina yang berhasil menggaet order dan dipercaya COSCO untuk
mewujudkan kapal gede buatan dalam negeri. Siiiip.
Sumber : Dari
Sana-sini.
Minggu, 06 Desember 2015
JT 061215 : Indonesia Kembali Menjadi Anggota OPEC
Setelah
sekian lama vacuum alias menyepi sambil melihat sikon diluaran sana, Menteri ESDM Sudirman Said – yang kini
tengah berseteru perihal konsesi PT
Freeport - menyatakan secara resmi Indonesia telah kembali aktif menjadi
anggota Organization of the Petroleun
Exporting Countries (OPEC).
Sebelumnya,
Indonesia pernah menjadi anggota OPEC dan memutuskan undur diri saat itu. Waktu
itu sekitar tahun 2008,
pertimbangannya pun lumayan banyak. Salah satunya, Indonesia khan gak banyak
nemu sumur minyak dan banyak impor, ngapain aktif di OPEC ?
Begitu
kira-kira dan kini Indonesia sudah aktif lagi, tinggal memilih wakil yang akan
ditempatkan di OPEC. Maklumlah, harus orang yang punya nasionalisme tinggi,
dedikasi serta jauh dari hingar-bingar isu korupsi seperti sekarang ini.
Berorganisasi
di tingkat dunia gak salah-salah amit, dan perlu untuk mengasah diplomasi. Apalagi
kedepannya, selain OPEC, Pemerintah Indonesia berniat masuk organisasi lain
seperti IEA dan International Energy Forum.
Sumber :
Bisnis Indonesia.
Sabtu, 05 Desember 2015
JT 051215 : Ukraini Dapat Manfaat Dari Boikot Rusia
Setelah
insiden penembakan pesawat Rusia oleh
Turki tempo hari, kabarnya
pemerintah Rusia cukup kecewa dengan penjelasan pihak militer Turki sehingga
berdampak pada turunnya aksi boikot dari Negeri
Beruang tsb.
Posisi tsb
tak lantas membuat Turki kehilangan pasokan barang yang selama ini didapat dari
Tuan Besar di seberang utara. Malah negara tetangga yang selama ini
berkompetisi langsung dengan Rusia, yakni Ukraina
ibarat mendapat durian runtuh.
Pasok barang
makanan Rusia yang selama ini mendominasi pasar Turki, mulai dirangsek oleh
produk dari Ukraina di pasar Turki – demikian menurut ulasan UkrAgroConsult – sebagaimana direlay
oleh kantor berita Reuters.
PM Rusia, Dmitry Medvedev dikabarin udah nyetujuin sanksi
perdagangan terhadap Turki, setelah pesawat tempur Rusia ditembak jatuh oleh
pihak Turki, diatas wilayah udara Turki (memang). Ya salahnya sendiri ‘lah.
Menteri Pertanian Ukraina, Oleksiy
Pavlenko udah
mengajukan usulan kepada pihak Turki, jika berkenan bisa menggantikan posisi
Rusia memasok kebutuhan utama Turki untuk produk minyak bunga matahari, gandum dan jagung.
Krisis diplomatic
ini hingga kini masih berlangsung dan membuat posisi produk makanan Rusia
semakin melemah di bumi Turki, sebaliknya peluang bisnis yang menggiurkan bagi
Ukraina untuk bisa menggeser posisi Rusia.
Sebagai
contoh, Ukraina menghasilkan gandum berkualitas bagus tetapi dalam waktu kurun
5 (lima) tahun ke belakang, pangsa pasarnya hanya 2,7 persen (posisi tahun 2014). Turki membutuhkan bahan baku untuk
membuat tepung berorientasi ekspor.
Ukraina tahun
ini bakal memanen 28 juta ton gandum
dan berencana melepas 16,6 juta ton
untuk ekspor. Wooow bingitz ya. Sembilan
juta ton diantaranya sudah direalisasikan tinggal sisanya nih nunggu lampu
ijo dari Turki. Eng ing eng …
Akankah mimpi
Ukraina bisa terwujud dengan aksi boikot dagang dari Rusia ini ? Sepertinya,
bila dengan kualitas sama, bisa. Namun di sebuah negara selalu ada kartel ato
nuansa politis yang selalu menghinggapi bisnis besar.
Just wait and
see.
Sumber : Dari
Sana-sini.
Jumat, 04 Desember 2015
Kamis, 03 Desember 2015
Selasa, 01 Desember 2015
JT 011215 : Merger COSCO-CSCL Dorong Konsolidasi Pelayaran Global
Sebelum ada isu
akuisisi pelayaran APL oleh CMA CGM beberapa waktu lalu, ada isu
yang gak kalah hebohnya yaitu rencana 2 (dua) pelayaran besar Tiongkok bakal
bersatu, antara COSCO dan China Shipping Container Lines (CSCL).
Entah namanya
apa nanti tapi isu ini mencuat setelah industri pelayaran global dipaksa untuk
bisa melakukan konsolidasi agar tidak rontok ditengah jalan. Pasalnya,
kompetisi dewasa ini sudah sedemikian canggih sehingga harus bisa memainkan
peran sebaik mungkin.
Menurut media
cetak Wall Street Journal (WSJ),
hasil merger ini nantinya akan memiliki dampak besar karena dengan aksi CMA CGM
mencaplok APL dan COSCO melebur dengan CSCL, maka komposisi aliansi strategis
bakal berubah total.
Pihak Beijing
ingin, hasil konsolidasi nantinya bisa berkompetisi dengan rival raksasa
sekelas dan maunya sih nih, gak pake pemutusan
hubungan kerja (PHK) segala. Tapi apakah mereka sanggup memenuhi tuntutan
itu ?
Secara normatif,
pasti di-IYA-kan tetap secara faktual bila kondisi keuangan gak nyukupin dan
dinilai gak efisien, sori-sori aja PHK kudu dijalanin. Yang udah-udah sih pasti
ada PHK dan pasti juga ada pesangon koq. Tapi apa iya mo semuanya pensiun dini
?
Pihak Beijing berpikir keras untuk gak bertindak
gegabah, apalagi sampe merumahkan sedemikian banyak pegawai. Karenanya proses
merger COSCO-CSCL tergolong alot hingga akhirnya disusul dengan aksi korporasi
CMA CGM melibas APL.
Kedua
pelayaran RRCina ini merugi hingga USD
911 juta dalam kurun waktu 5 (lima)
tahun saja – itu menurut catatan Drewry
Shipping Consultant Ltd. Pasalnya, Beijing berharap merger kedua pelayaran
ini akan menciptakan pelayaran terbesar
ke-4 di dunia.
Pastinya
banyak yang diharapkan, selain karena untuk mendorong langkah efisiensi,
pengiriman produk dari Tiongkok sedapat mungkin bisa diakomodir oleh pelayaran
berbendera palu arit dengan dasar merah darah.
Saat ini,
COSCO mengoperasikan 175 kapal dan
CSCL menjalankan 156 kapal, dengan
posisi sekarang di ranking 6 dan 7 dunia. Posisi 3 (tiga) pelayaran besar
didepannya adalah Maersk Line, MSC dan CMA CGM (sebelum dan sesudah
mengakuisisi APL, tetap sama urutannya).
Pemerintah
Tiongkok sangat peduli dengan perkembangan yang terjadi di luar sana. Makanya,
selain mendorong konsolidasi korporasi 2 pelayaran yang berbasis kontainer,
pihak Beijing juga mendorong pelayaran berbasis tanker melakukan hal serupa.
Pihak yang
dipaksa melakukan maneuver merger adalah : China
Merchants Energy Shipping Co dan Sinotrans
& CSC Holdings Co. Upaya ini
diakui masih terlalu dini diungkap karenanya kurang begitu muncul dan diketahui
public tapi wacana kearah merger, pasti ada.
Bila kedua
pelayaran berbasis tanker tersebut maujud suatu hari nanti, bisa dipastikan
gabungan pelayaran ini akan melahirkan pelayaran tanker terbesar di dunia –
demikian sebagaimana diulas oleh Citi
Research.
Ok deh,
semoga upaya-upaya yang ada di negeri Tiongkok bisa ditiru oleh pemerintah
Indonesia guna memajukan industri pelayaran di Tanah Air. Aamiin YRA.
Sumber : Dari
Sana-sini.
Langganan:
Postingan (Atom)



